Mengenai Saya

Foto saya
Alamat : Jl. STAI, Siak Sri Indrapura, Pekanbaru- Riau, Indonesia
T.Tgl.Lahir : Kisaran,12 Nov 1984, saya merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara. Terlahir di keluarga seadanya dan di besarkan oleh kedua orang tua yang begitu mengasihi dan menyayangi kami.Begitu tamat sekolah saya langsung merantau kedaerah Riau yaitu Sorek. Saya memulai karir disana sebagai staf admin di sebuah Dealer Jialing " Aneka Jaya Motor ". Sekarang ini saya sudah mempunya seorang istri yang sangat setia mendampingi di setiap hari-hari yang ku lalui. Juga dua orang anak yang tampan dan cantik " Rizky Mughny Putra " dan " Nur Fadhilah Putri ".

Kamis, 25 Desember 2008

Taman Safari Indonesia - Bogor




Foto : Rekreasi ke Taman safari
Lokasi : Cisarua - Bogor
Tgl. : 05 Januari 2008
Keberangkatan kesana bersama semua Kepala Cabang Semesta Finance
Se-Indonesia.

Salam Sukses ..!!!

Pameran Yamaha Bertema " Touching Your Heart "




Acara pameran sepeda motor YAMAHA,
Yang di adakan di lapangan hijau
Kota Rengat Indragiri Hulu
Riau,Indonesia.

Kami ikut menghadiri acara tersebut bersama keluarga.
Rizky Mughny Putra ikut mencoba unit yang di pamerkan,
Berupa sepeda motor Mini ( mini bike ).

Rabu, 24 Desember 2008

Rahasia Batu Hajar Aswad



Rahsia Hajar Aswad

Posted on December 21st, 2008 admin 1 comment
window.google_render_ad();


Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planetBumi.
Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi,
dia berkata :
“Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?.”


Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada asalan tersembunyi di balik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.
Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.


Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’Bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad ituditurunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa
anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.

Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877)
window.google_render_ad();

Sabtu, 13 Desember 2008

Harta Karun Untuk Semua

Artikel Tetap
Jumat, 19-Oktober-2007; 09:14:30 WIB


Harta Karun Untuk Semua

Rating Artikel : Oleh : Dewi Lestari -
Penyanyi dan Penulis buku best seller "Supernova"


Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa karet, tanpa bensin. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus.

Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air.

Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, atau berjalan-jalan hari Minggu ke Gasibu di tengah lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat puluhan merk mie instan, puluhan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas.

Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, atau Indonesia lengser dari peringkat pertama perusak hutan tropis dunia, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.


Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya. Sama dengan kebanyakan dari kita, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan.

Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan laci dapur, untuk tidak memenuhinya di luar kapasitas.

Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini.
Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik.

Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak.
Marilah kita berjalan.

Salam Sukses Luar Biasa...!!!
Diposting oleh : deruniadi.blogspot.com

Menjadi Diri Sendiri

Artikel Tetap

Rabu, 10-Oktober-2007; 00:02:05 WIB
Menjadi Diri Sendiri

Rating Artikel : Oleh : Andrie Wongso



Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.
Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar.
Dia mengeluhkan kondisinya,

“Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”

Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar.

Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.


Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaat. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.


Pembaca yang budiman,Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.

Meniru orang memang sah dan boleh saja.
Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri.

Selain itu, kita juga butuh melatih dan memelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.

Jadilah diri sendiri!
Be your self!

Salam sukses luar biasa!!!

di kutip oleh :
deruniadi.blogspot.com
Minggu, 14 Desember 2008 ; 13 : 01 : 16

Selasa, 02 Desember 2008

Bahagiakan Mereka


Bismillaahirrahmaanirrahiim,


Langkahku terhenti, ketika sebuah teriakan tercipta dari bibir mungilnya yang lucu. Aku menoleh kearahnya, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahunan.

Ia berlari untuk kemudian berceloteh,

"Abi, Ummi bilang abi mau ngajak kita belanja ya? Aku mau dibeliin mainan baru bi, O ya, baju koko ku juga udah kecil bi, bentar lagi kan lebaran, beli lagi ya bi? Terus abi juga janji kan mau bawa aku jalan-jalan, kapan bi?", tanyanya.


Seseorang yang tadi dipanggil Abi itu kemudian sambil memainkan rambut anak laki-lakinya dia tersenyum dan berujar,
"Iya, insyaAlloh nanti kita pergi bareng Ummi ya Iqbal, sekarang Iqbal mandi dulu terus siap-siap bentar lagi kita ke masjid."



Ada sorot mata kasih sayang ketika dua pandangan mereka bertemu. Aku tertegun, ada keharuan yang menyeruak dalam dada ini. Mulutku terkatup rapat, mata terpejam, serasa ada tetesan air di penghujung mata ini.


Kucoba tersenyum sambil berucap, "Alhamdulillah... ", gumamku.
Keceriaan, kegembiraan bahkan nilai dari sebuah kesempatan untuk merasakan kebahagiaan saat-saat bersama dengan seorang ayah seperti itu yang memang tidak pernah aku rasakan.


Namun ternyata bukan hanya olehku, ia sang Rasul Alloh pun mungkin merasakan hal yang sama saat itu. Bahkan berjuta anak-anak lainpun akan tidak jauh beda merasakannya, ketika kondisi memaksa mereka menjadikannya berada pada posisi tersebut. Menjadi seorang yang hanya bisa berharap, bermimpi bisa mendapatkan belaian kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.


Mereka tidak pernah meminta untuk terlahir dan hadir didunia ini tanpa merasakan kasih sayang seorang ayah ataupun ibu. Mereka juga tidak pernah berharap berada pada satu posisi kekurangan kasih sayang karena ketidakberadaan salah satu dari kedua orang tuanya.


Namun yang jelas ternyata Alloh tidak hanya menguji mereka dengan kesabaran dan ketawakalannya untuk bisa menerima dan menjalani hari-harinya dengan tetap tegar. Tapi juga ternyata Alloh menguji kita, menguji sejauh mana kita mampu berbagi kasih dengan mereka, menguji sebesar apa kita mampu berbagi sayang dalam kehidupan mereka.


Disaat begitu banyak kebersamaan, kebahagiaan dan keceriaan kita tercipta dengan anak-anak kita, namun ternyata betapa sedikit kita tersadar bahwa di ujung sana, sepasang mata kecil yang tidak pula berbeda mengharapkan kebersamaan dengan orang tua-orang tua mereka, hanya mampu berurai air mata, mereka hanya mampu menunduk dan tersedu.

Tidak berlebihan memang, ketika Rasul begitu memuliakan posisi mereka yang mencintai anak-anak yatim di akhirat kelak, bak dua jari tengah dan telunjuk yang di antaranya tanpa satupun jari pemisah. Subhanalloh...


Untuk itu, disaat kini purnama Ramadhan yang kian hari kian tak sempurna lagi, tiada salahnya bila kita coba menengok kesekeliling kita.

Siapa tahu di sana masih ada airmata kesedihan yang mengharapkan belaian kasih sayang kita, hanya untuk membesarkan jiwa-jiwa mereka, dan meyakinkan mereka bahwa kita bisa menjadi pengganti bagi ayah-ibu mereka. Dekap, belai dan bahagiakanlah mereka...


Wallahu'alam bish-shawab.