Mengenai Saya

Foto saya
Alamat : Jl. STAI, Siak Sri Indrapura, Pekanbaru- Riau, Indonesia
T.Tgl.Lahir : Kisaran,12 Nov 1984, saya merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara. Terlahir di keluarga seadanya dan di besarkan oleh kedua orang tua yang begitu mengasihi dan menyayangi kami.Begitu tamat sekolah saya langsung merantau kedaerah Riau yaitu Sorek. Saya memulai karir disana sebagai staf admin di sebuah Dealer Jialing " Aneka Jaya Motor ". Sekarang ini saya sudah mempunya seorang istri yang sangat setia mendampingi di setiap hari-hari yang ku lalui. Juga dua orang anak yang tampan dan cantik " Rizky Mughny Putra " dan " Nur Fadhilah Putri ".

Sabtu, 13 Desember 2008

Harta Karun Untuk Semua

Artikel Tetap
Jumat, 19-Oktober-2007; 09:14:30 WIB


Harta Karun Untuk Semua

Rating Artikel : Oleh : Dewi Lestari -
Penyanyi dan Penulis buku best seller "Supernova"


Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa karet, tanpa bensin. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus.

Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air.

Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, atau berjalan-jalan hari Minggu ke Gasibu di tengah lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat puluhan merk mie instan, puluhan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas.

Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, atau Indonesia lengser dari peringkat pertama perusak hutan tropis dunia, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.


Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya. Sama dengan kebanyakan dari kita, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan.

Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan laci dapur, untuk tidak memenuhinya di luar kapasitas.

Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini.
Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik.

Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak.
Marilah kita berjalan.

Salam Sukses Luar Biasa...!!!
Diposting oleh : deruniadi.blogspot.com

Tidak ada komentar: