
Foto : Rekreasi ke Taman safari
Lokasi : Cisarua - Bogor
Tgl. : 05 Januari 2008
Keberangkatan kesana bersama semua Kepala Cabang Semesta Finance
Se-Indonesia.
Salam Sukses ..!!!



Selain untuk menyehatkan badan, kegiatan ini juga bertujuan untuk menjalin silaturrahim atara sesama karyawan. Hal ini sangatlah penting karena terkadang pada situasi dan momen seperti ini justru kita bisa lebih terbuka lagi dan saling bertukar pikiran mengenai masalah-masalah yang sedang di hadapi.
Sungguh sangat ironis bila kita berada dalam satu payung perusahaan akan tetapi justru kurang akrab atau malah tidak saling kenal. Hanya karena kita selalu disibukkan dengan berbagai aktivitas kerja yang begitu padatnya.
Padahal justru dengan melakukan kegiatan bersama seperti ini kita bisa saling bantu dan saling memberi masukan. Karena tidak mustahil bahwa suatu masalah yang ada di satu daerah juga sudah pernah terjadi di daerah lain dan sudah ditemukan solusinya. Sehingga saat momen-momen pengalaman tersebut bisa menjadi bahan masukan bagi yang sedang menghadapi masalah tersebut.
Nih sedikit contoh variasi Tim yang terbentuk,,,
he he he,,,
| Assalamu Alaikum Wr,,,Wb,,, Mungkin anda pernah mendengar masalah Doa/Ayat 1000 Dinar, yang menurut khabarnya sangat banyak manfaat nya bila sering di amalkan. Berikut ini saya ingin berbagi masalah Ayat 1000 dinar tersebut, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Bunyi ayat 1000 dinar adalah sebagai berikut : “Wamaa ya taqilaha yajallahu mahrajar wayarzuqhu minhaitsu layahtasib…Wamaa ya tawaqal alallahi fahuwa hasbuhu inalallaha baliqu amrihi qajal lallahu liquli syaiin qodir..” Artinya: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT, akan diberikan kelapangan dan rezeki yang tidak terduga…Barang siapa yang bertawakal pasti akan dijamin-Nya…..Sesungguhnya Allah itu sangat tegas dengan perintahnya…Dia-lah yang mentakdirkan segala sesuatu..” Sebelum membaca doa Ayat 1000 Dinar ini, bersihkan dulu hati dari segala nafsu duniawi yang negative..kemudian ucapkan dalam hati niat sbb: “ Audzu billah himinnas syaitonni rodzim (aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan terkutuk)….Bissmillahi rachmanni rakhim (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang) Astagfirullah al adzim ( ya Allah, aku mohon ampun kepadaMu)..Allahuma soli alla Muhamad wa ala Ali Muhamad (salawat nabi)… aku memanjatkan doa Ayat 1000 Dinar kepada-Mu sebagai ikrar keimanan dan ketaqwaanku kepada Mu…hanya pada-MU lah aku menyembah dan hanya pada-Mu lah aku minta pertolongan…berikanlah aku kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat, selamatkanlah aku dari siksa api neraka…Amin…” Demikianlah sedikit pengetahuan yang saya dapat, Mudah-mudahan bisa di amalkan. Amin... |

Apalah Arti sebuah nama,,,? Pertanyaan ini sering kita dengar, karena banyak orang yang menganggap Nama tidaklah terlalu penting... Ada pengalaman baru yang saya alami,,, Saat salah seorang kakak saya memperoleh anggota keluarga baru. Saya diminta mencarikan nama yang bagus untuk anaknya tersebut. Wah,,, Agak repot tuh saat saya di beri kepercayaan yang belum pernah saya kerjakan. Namun Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan nama yang bagus untuk anaknya tersebut, Saya beri nama " Khairunisa Salsabila ", yang artinya " Sebaik-baik Wanita Yang Menjadi Mata Air Surga ". Mudah-mudahan nama itu menjadi Do'a yang bai adanya bagi si kecil, Amin,,, Ya Robbal Alamin... Nama sangatlah penting karena kita akan dipanggil untuk dihisab kelak sesuai dengan nama kita masing-masing. Dan nama itu ibarat Do'a bagi anak-anak kita. Dengan kita memberi nama yang baik, berarti kita mendo'akan kebaikan bagi anak kita. Jadi carilah nama yang baik bagi generasi kita, dengan harapan mereka akan mendapat kebaikan pula sesuai nama yang kita beri. Amin... Selamat ya kak dengan momongan barunya. Mudah-mudahan menambah kebahagiaan di dalam rumah tangga kakak. Amin... |


Solidaritas...
Bagi sebuah Tim Work Solidaritas itu memang suatu unsur yang sangat utama dalam pencapaian setiap visi dan misi nya.
Bahkan sukses tidaknya sebuah Tim Work sangatlah ditentukan rasa solidaritas dalam tim tersebut. Hal ini merupakan tanggung jawab seluruh anggota tim. Masalah pasti selalu ada, baik itu masalah yang datangnya dari dalam tim sendiri maupun dari luar.
Masalah dari luar akan sangat mudah di selesaikan apabila Tim Work memang benar-benar memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Namun bila tidak, justru masalah kecilpun akan terasa begitu berat untuk diselesaikan.
Sedangkan masalah internal justru lebih berbahaya dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Karena semangkin lama masalah itu terpendam justru akan semangkin membesar dan sulit untuk diselesaikan. Proses penyelesaian masalah internal membutuhkan andil dari semua anggota tim dan juga dari orang yang sedang mengalami masalah ( konflik ).
Membina sebuah tim yang solid dan kompak bukanlah hal yang mudah. Ini membutuhkan pengenalan dan keterbukaan seluruh anggota tim. Semua anggota tim harus benar-benar memahami sifat dan karakter dari anggota yang lain, Mengutamakan kepentingan bersama dan selalu membina komunikasi dan koordinasi yang baik. Selalu membahas masalah secara bersama dan mencari solusi bersama pula.
Mari kita bina tim kita ini untuk lebih solid dan selalu solid...
Jangan sampai masalah kecil menjadi kendala yang bisa menyebankan rusaknya solidaritas tim.
Sukses selalu dan salam kompak My Tim Work...
" Good Luck "
Hobi orang memang macem-macem ya,,,Masa kanak-kanak memang merupakan masa-masa terindah dalam hidup kita.
Bagaimana tidak,,,
Saat kita kecil kita selalu menjadi orang penting bagi keluarga kita. Apa saja yang kita minta selalu di usahakan untuk dituruti oleh orang tua, bahkan kita tidak pernah memikirkan bagaimana cara mereka memenuhi apa yang kita minta, sulit atau mudahkah permintaan itu jg tidak terfikir oleh kita.
Anak-anak memang memiliki daya rekam yang tinggi atas segala kejadian di sekitarnya.
Sehingga watak dan pola pikir anak-anak sangat di pengaruhi oleh lingkungan.
Begitu pula masalah hobi dan cita-citanya.
Daerah tempat tinggalku saat masih kecil merupakan daerah pinggir kota. Sedangkan posisi rumah saat itu berdekatan dengan Asrama TNI ( ABRI - sebutan saat itu ).
Aku melihat TNI yang saat itu disebut ABRI memiliki pengaruh yang sangat kuat dan begitu di segani bahkan ditakuti oleh masyarakat umum.
Hal ini sudah tertanam kuat dalam pikiranku saat itu. Dan sebagai anak-anak yang belum memahami benar kondisi sesungguhnya, Aku menjadi tertarik agar kelak bisa menjadi TNI pula.
Inilah awal cita-citaku. Hingga aku benar-benar terobsesi untuk menjadi TNI, bahkan segala hobi dan kegiatanku sehari-hari sering meniru kegiatan-kegiatan yang dilakukan TNI. Aku jadi rajin berolah raga dirumah dan lari pagi.
Hingga akhirnya aku tamat SMA, dan langsung mendaftar ke Taruna Akabri.
Ku ikuti proses tes mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat profinsi.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, hanya tinggal menunggu panggilan untuk tes ke tingkat pusat. Setelah rangkaian tes yang kujalani tersebut selanjutnya aku menjadi memiliki harapan yang begitu besar untuk di panggil dan lulus seleksi ditingkat pusat.
Namun, ternyata semua tidak semulus yang ku bayangkan. Sampai dengan tanggal pengumuman yang di janjikan aku tetap tidak menerima surat panggilan.
Nyata lah sudah bahwa aku tidak lulus dan tidak diikutsertakan untuk tes di tingkat pusat. Sungguh begitu kecewa diriku saat itu, dan seakan tidak mau terima dengan kenyataan yang ada.
Ya,,,
Itulah kenyataannya, yang mau atau tidak mau kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada.
Sangat sulit memang, dan serasa ingin berontak. Tapi apakah bisa dipastikan dengan kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan membuat hidup kita bahagia,,,?
Tidak,,,
Semuanya tidak dapat dipastikan. Dan akankah kita susah kehilangan cita-cita itu,?
Juga tidak,,,
Allah yang maha bijaksanalah yang mengetahui segalanya. Karena apa yang kita anggap buruk dan kita benci, belum tentu buruk bagi kita. Sedangkan apa yang kita anggap baik dan kita senangi belum tentu berdampak baik pula bagi kita.
Terkadang mata dan pikiran ini memang tidak bisa menembus makna dari kejadian yang kita alami. Kita sedih dan merasa susah saat kehilangan sesuatu yang kita anggap baik, sedangkan Allah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari itu.
Jadi janganlah kita berburuksangka pada Allah saat berkurangnya sedikit nikmat, karena Allah pasti membalas setiap kesabaran dan rasa syukur dari setiap hambanya dengan limpahan nikmat yang lebih banyak lagi.
Semoga kita termasuk hamba-hambanya yang pandai beryukur atas segala nikmat dari-Nya, dan selalu sabar dalam menghadapi setiap cobaan dari-Nya.
Amin,,, Allahumma Amin...
|
Oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-BugisiPosting: 15-03-2008 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82) Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat نُنَزِّلُ “Kami turunkan.” Jumhur ahli qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (نُنْزِلُ). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (يُنْزِلُ). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. (Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253) مِنَ الْقُرْآنِ “dari Al-Qur`an.” Kata min (مِنْ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu. Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya: وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi...” (An-Nur: 55) Kata min dalam lafadz مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan At-Thibb An-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138) شِفَاءٌ “Penyembuh.” Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya. Penjelasan Tafsir Ayat Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur`an, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Qur`an-lah yang menyembuhkan itu semua. Di samping itu, ia merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat. Adapun orang kafir yang mendzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Al-Qur`an tidaklah bertambah baginya melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيْدٍ “Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” (Fushshilat: 44) Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 124-125) Dan masih banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/60) Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata pula dalam menjelaskan ayat ini: “Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang dzalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah baginya kecuali kerugian. Karena, hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu. Penyembuhan yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Al-Qur`an) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasehat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di samping itu, Al-Qur`an juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit. Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 465) Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani? Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” (Fathul Qadir, 3/253) Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Zadul Ma’ad: “Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287) Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Al-Qur`an. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha.Beliau radhiallahu 'anha berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terkena sihir (1), sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istrinya padahal tidak mendatanginya. Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’ Dijawab: ‘Terkena sihir.’ Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’ Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi, ia seorang munafiq.’ (Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’ Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’ (Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’ Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.” 'Aisyah radhiallahu 'anha lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.” Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab At-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama Al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab Al-Adab, bab Innallaha Ya`muru Bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063). Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), Al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan Al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272). Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah Subhanahu wa Ta'ala): قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ Hingga selesai bacaan surah tersebut.” Demikian pula yang diriwayatkan Al-Imam Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya, dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, beliau berkata: “Sekelompok (2) shahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka. Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikitpun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para shahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’ Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’ Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing (3). Maka dia (salah seorang shahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (Al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi. Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.’ Merekapun menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian melaporkan hal tersebut. Maka beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (Al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tertawa.” Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: خَيْرُ الدَّوَاءِ الْقُرْآنُ “Sebaik-baik obat adalah Al-Qur`an.” Dan hadits: الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ “Al-Qur`an adalah obat.” Keduanya adalah hadits yang dha’if, telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, no. 2885 dan 4135. Membuka Klinik Ruqyah Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah: “Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan tabi’in. (Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf dan bimbingan As-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama. Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. (Ar-Ruqa Wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh, hal. 20-21) 1 Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan orientalis dan ahli bid’ah mengingkari hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah –walhamdulillah- para penolak hadits ini dalam sebuah kitab yang berjudul Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadits. Silahkan merujuk kepada kitab tersebut.2 Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.3 Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka. Sumber: www.asysyariah.com |
Amin,,,Amin,,, Allahumma Amin...
Siak merupakan kota kabupaten yang baru berkembang. Posisinya juga tidak dilalui oleh jalan lintas nasional, karena mengarah kedalam ( arah ke perairan/kepulauan ).